Sang Maestro, Gesang, Waljinah Dan Para Generasi Penerus Musik Keroncong

KERONCONG BERTAHAN DARI MASA KE MASA
   

Ketika peralihan keabad 19 mereka orang orang kampung Toegoe ini menginovasi musik tradisi dengan memainkannya bercampur pengaruh gaya musik langgam Jawa yang bisa mereka dengar pada saat penyelenggaraan Festival Gambir yang diadakan oleh pemerintahan kolonial. Musik yang mereka mainkan juga disukai oleh orang orang Belanda dan Eropa umumnya di Batavia. Mereka memainkan musik itu di berbagai tempat seperti Passer Baroe (sekarang Pasar Baru) untuk kalangan orang Eropa dan khalayak luas pada umumnya.

Pada awal abad 20 musik yang mereka mainkan menjadi penanda atau ikon  masa keroncong abadi , tahun 1935 ditandai dengan Kusbini mengaransemen musik asal Moresco Portugis yang diadaptasi olehnya menjadi krontjong moresco yang kemudian menjadi komposisi keroncong pertama yang ditulis. Lalu pada tahun 1940 musisi keroncong lain asal Solo, Gesang (alm.) menciptakan suatu komposisi keroncong yang legendaris berjudul ‘Bengawan Solo’, julukan ‘ buaya keroncong’ disematkan kepada  beliau oleh para insan keroncong Indonesia bisa dan juga sebagai perintis jenis langgam keroncong yang menjadi produk budaya Indonesia yang kemudian disebut keroncong.

Pada masa ini dikenal 3 jenis keroncong  yaitu; Langgam keroncong yang divariasikan dengan alat musik tradisional Jawa seperti seperangkat gamelan dan seruling. Stambul keroncong yang memilki syair seperti pantun dan sudah terlebih dahulu eksis, dan yang ketiga keroncong asli seperti bentuk semula ketika di kembangkan oleh orang orang kampung Toegoe. Seperti lagu yang berjudul Tirtonadi, Di bawah sinar bulan purnama, Sala di waktu malam, Rindu Malam Jauh di mata dan beberapa lagu lain menjadi syair syair keroncong yang abadi.

KERONCONG MODEREN

   

Tahun 1959 ditandai sebagai awal masa keroncong modern, yang dimulai dengan berdirinya Yayasan Tetap Segar di bawah pimpinan bapak Brigjen. Sofyar yang memperkenalkan keroncong pop atau keroncong beat. Karena waktu itu musik popular modern dari Barat seperti rock n’roll, pop sedang sangat digemari oleh kalangan muda. Tetapi juga musik daerah Na So Nang Da Hito dari batak, Pileuleuyan dari jawa Barat dikombinasikan oleh Yayasan Tetap Segar dengan musik keroncong modern. Lalu pada sekitar tahun 1968 di daerah Gunung Kidul Yogyakarta musisi Manthous memper-kenalkan jenis lain dari langgam Jawa yaitu Campursari bentuk lain keroncong dengan gamelan dan kendang, juga ditambah dengan instrument modern seperti bass gitar, organ, juga dilengkapi dengan saxophone dan terompet.

Memasuki dekade berikutnya keroncong tetap bertahan meski tidak pernah masuk ke dalam arus utama industri musik di Indonesia, nama nama seperti Waljinah yang legendaris sebagai penyanyi tembang Langgam Jawa dan juga keroncong, atau Soendari Soekotje yang dikenal sebagai penyanyi keroncong pop. Keroncong juga digunakan sebagai  media untuk menyebarkan ajaran kasih Tuhan, tapi sayangnya saat ini yang dikenal membawakannya baru seorang  Mus Mulyadi, seorang penyanyi langgam langgam Jawa yang terkenal mencoba menggubah lagu lagu hymne dan juga lagu lagu Kristen populer dengan iringan musik dan cengkok khas keroncong. Usaha yang patut di apresisai agar warisan budaya bangsa bisa terus terjaga sekaligus memberitakan Kasih Tuhan melalui musik Keroncong.

Sumber artikel diambil dari berbagai sumber yang ada di Google

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.